...Read More
Seperti yang telah disebutkan bahwa kami akan melanjutkan materi kultum: "Memahami Kalimat Syahadat" bagian ke-2. Sampai disini, kami akan meluruskan yang namanya "Cinta" kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar ungkapan dari para tokoh sufi yang menyatakan, "Ya Allah, jika aku beribadah kepadaMu karena mengharapkan surgaMu maka, jauhkanlah aku darinya. Dan jika aku beribadah kepadaMu karena takut akan nerakaMu maka, masukkanlah aku kedalamnya". Bagi sebagian orang, kalimat ini nampak begitu mulia. Beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala tanpa mengharapkan balasan apapun selain Allah. Mereka mengira bahwasanya keikhlasan beribadah itu diukur dengan mengharapkan surga atau tidaknya dan takut akan neraka atau tidaknya. Jika anda tidak menginginkan balasan sesuatu maka itu adalah ikhlas. Namun entah apa yang mereka lakukan dengan ayat-ayat al-Qur'an yang memerintahkan kita tuk memburu surgaNya dan berlindung dari nerakaNya. Juga, do'a-do'a Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang memohon surga dan berlindung dari nerakaNya.
Allah memerintahkan kita untuk memburu surga,
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (QS. al-Muthaffifin: 26)
Dan juga sifat ulil-albab dijelaskan dalam al-Qur'an yakni berlindung dari siksa nerakaNya. Allah berfirman,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari siksa neraka". (QS. al-Baqarah: 191)
Hakikat cinta kepada Allah tidak akan tegak tanpa dua sayap penghambaan. Apa itu? Pertama, Khauf (rasa takut kepadaNya) dan kedua, Raja' (rasa harap kepadaNya). Ayat-ayat al-Qur'an dan pesan-pesan kenabian terlalu dipenuhi penjelasan akan hal ini. Hanya orang bodoh atau pura-pura bodoh yang tak mengetahuinya.
Seorang pecinta hakiki pasti akan selalu takut mendapatkan siksa dari yang dicintainya. Dan disaat yang sama hatinya selalu dipenuhi harapan tuk mendapatkan karunia terbaik dari yang dicintainya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menggambarkan para hamba-hamba pilihanNya dan para nabi dan rasul 'alaihimu shalatu wa sallam,
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"Sesungguhnya mereka bersegera dalam (melakukan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan rasa harap (raja') dan takut (khauf) dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami." (QS. al-Anbiya': 90)
Dan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Rasul penghulu seluruh manusia telah menyatakan,
"Dan ingatlah, demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah diantara kalian." (Muttafaqun 'alaihi)
Sehingga Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- menanggapi ungkapan para tokoh sufi tersebut, "Perkataan ini muncul disebabkan karena sangkaannya bahwasanya surga itu hanya sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Dan neraka itu hanya sekedar nama tempat yang dimana manusia akan mendapatkan siksa didalamnya. Inu termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham tentang kenikmatan surga. Kenikmatan-Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan untuk para wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat wajah Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oelh karena itu, makhluk Allah yang paling mulia adalah yang selalu meminta surga dan selalu berlindung dari siksa neraka." (Majmu' al-Fatawa jilid ke-10: 240-241)
Oleh al-Akh, Muhammad Eddy (Al-Khajuul) -hafizhahullahu ta'ala-
Pada materi kultum selepas shalat 'ashar: Senin, 14 Agustus 2017/ 22 Dzul-Qa'dah 1438 H.
RohisKarimun08.blogspot.com | Facebook/Twitter/Instagram: @RohisKarimun & Instagram: @Karimun_Akhowaat08 | Line@: @fuz2598t
Seperti yang telah disampaikan bahwa kita tidak akan merasakan manisnya kisah cinta dengan Sang Rabb kecuali bila makna kalimat "Laa ilaha illallah" benar-benar dipahami. Kalimat agung ini jika saja diucapkan dengan penuh kesadaran dan perasaan maka sesungguhnya ia adalah kalimat yang memiliki makna sangat erat dengan hati. Kalimat ini adalah kalimat yang kutub putarannya pada segala Kemaha sempurnaan dan Kemaha agungan. Sebuah pengakuan...Read More